Subscribe:

kategori

Rabu, 21 September 2011

'Perang Bunga Mawar' Berakhir Sunyi

Leeds - Manchester United menang 3-0 atas Leeds United dan melaju ke fase berikutnya. Tak ada yang spesial. 'Perang Bunga Mawar' itu pun berakhir dengan sunyi.

Di atas kertas, kemenangan MU, yang performanya kini tengah bagus-bagusnya memuncaki Premier League dengan hasil sempurna, bukanlah hal mengejutkan. Apalagi sang lawan "hanya" Leeds, si penghuni posisi tujuh League Championship--satu level di bawah Premier League--saat ini.

Tapi, melihat ke belakang, rivalitas kedua klub seharusnya lebih dari sekadar kasta. Lebih keras. Dan malah sudah menyeret-nyeret ke persoalan sejarah.


Maaf, bukannya berharap pertandingan di Elland Road, Rabu (21/9/2011) dinihari WIB tadi, berakhir ricuh atau berharap lebih ramai insiden, tapi faktanya rivalitas kedua klub memang keras.

Para pendukung MU mungkin pernah mendengar bagaimana Denis Law dan Jack Charlton baku hantam di semifinal Piala FA 1965, di mana kostum Law sampai robek akibatnya. Atau bagaimana dahulu kedua suporter garis kelas klub, Leeds Service Screw dan United Red Army, sering bentrok.

Well, dengan dua gol Michael Owen dan Ryan Giggs dinihari tadi, MU seperti menorehkan kemenangan sunyi atas salah satu rival berat mereka. Leeds, yang hancur dan harus turun level akibat masalah keuangan klub beberapa tahun lalu, tampak tak bisa berbuat banyak.

'Perang Bunga Mawar' yang berawal dari sejarah permusuhan kedaerahan antara House of York (dengan lambang bunga mawar putih, bak mewakili Leeds) dan House of Lancaster (dengan bunga mawar merah, bak mewakili MU), jadi terdengar sayup-sayup. Padahal, rivalitas kedua klub tak kalah dibandingkan dengan, misalnya, El Clasico atau rivalitas antara MU dan Liverpool di tanah Inggris.

Hubungan Unik

Di balik segala rivalitas tersebut, MU dan Leeds punya hubungan yang terbilang unik. MU tak pernah merasa tabu membeli pemain dari sang rival. Malahan hal itu cukup sering terjadi.

Di era Premier League, The Red Devils sudah sering melakukan pembelian terhadap para pemain dari sang rival. Ketika Leeds mulai tercium mendapatkan masalah keuangan di awal era 2000-an, salah satu bek terbaik mereka, Rio Ferdinand, dijual dengan harga mahal. Dan lihat bagaimana Ferdinand menjadi bagian penting dari MU setelahnya.

Satu nama lain, Alan Smith, memang tak sesukses Ferdinand. Tapi sikap keras Smith dan bagaimana kerja kerasnya di lapangan telah memenangi hati sebagian suporter dan pemain. Ketika dirinya cedera patah kaki pada musim 2005/06, para pemain 'Setan Merah' mempersembahkan kemenangan di Piala Carling musim itu untuknya--dengan mengenakan kaos bertulisan "For You Smudge".

Yang paling fenomenal? Siapa lagi kalau bukan Eric Cantona. The King disebut-sebut sebagai kepingan puzzle terakhir yang dicari oleh Alex Ferguson di awal 90-an. Dengan datangnya pria asal Prancis itu ke Old Trafford, tim Fergie pun menjadi komplet.

Cantona yang menjadi pahlawan Leeds di musim 1991/92, di mana The Whites tampil sebagai juara, akhirnya menjadi pahlawan MU di musim berikutnya--yang mana merupakan awal dari era Premier League. Dan Cantona pun akhirnya malah berakhir sebagai legenda Old Trafford.


0 komentar:

Posting Komentar